Berita Kompas: McGegas dan Avatar Sosial

TEKNOLOGI KREATIF
Membuat Film Animasi ala ITS

Jumat, 14 Agustus 2009 | 03:49 WIB

Film animasi kini semakin menjadi tren dunia. Selain tak perlu menyewa bintang film mahal, di film ini bisa berimajinasi liar, biaya produksinya juga relatif murah. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, punya teknik tersendiri dalam membuat film animasi.

Karya kreatif yang disebut Motion Capture dan Render Farm karya tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, itu dipamerkan saat peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional XIV pada 7-10 Agustus 2009 lalu.

Kedua teknologi itu—sebenarnya masih ditambah satu lagi, yaitu Avatar Sosial yang masih dalam penuntasan—berkemampuan menjadi motor industri kreatif berbiaya rendah dan relatif cepat dalam menghasilkan film animasi.

”Menggunakan dana tidak lebih dari Rp 250 juta sekarang sudah bisa membuat studio animasi dan menjadi bagian dari industri kreatif,” kata Ketua Peneliti Motion Capture dan Render Farm ITS Surabaya Mochamad Hariadi, Kamis (13/8).

Dana Rp 250 juta tersebut tergolong rendah mengingat dana sebesar itu diharapkan bisa untuk pengadaan peranti keras setidaknya 12 komputer, 8 kamera, dan peralatan sensor gerak model animasi. Peranti lunaknya, menurut Hariadi, semua diunduh dari software open source yang tak perlu membeli lisensi.

Publik dalam waktu dekat dapat menyaksikan film animasi dengan teknologi yang dirancang Hariadi beserta timnya tersebut. Film animasi itu diberi judul Catatan Si Dian dengan durasi setiap episode 20 menit.

”Pada September 2009 nanti akan disiarkan melalui televisi lokal,” ujar Hariadi.

Mekanisme

Mekanisme pembuatan film animasi dengan teknologi Motion Capture dan Render Farm, diakui Hariadi, tak ubahnya teknologi yang sudah terlebih dulu dikembangkan di negara-negara lain yang sudah lebih maju industri kreatifnya.

”Kelebihannya pada pemanfaatan muatan lokal, termasuk pembuatan peranti lunaknya, sehingga benar-benar menekan harga produksi film animasi dan cocok untuk usaha kecil dan menengah,” kata Hariadi.

Mekanisme pembuatan film animasi oleh Hariadi menggunakan peranti lunak Blender berbasis software open source untuk mengolah citra yang diperoleh dari model.

Citra itu tidak sembarang gambar karena yang diperoleh hanya berupa titik-titik simpul gerak model yang ditangkap oleh kamera. Model dilengkapi dengan lampu led yang ditaruh di dalam bola pingpong dan dilekatkan di setiap titik sendi gerak.

”Ada sekitar 20 titik yang ditempelkan pada tubuh model,” kata Hariadi.

Setiap kali model bergerak akan tertangkap kamera dan diolah menjadi data digital rigging. Rigging berupa rangkaian titik simpul yang dicitrakan dari lampu led di dalam bola pingpong tadi menjadi bahan dasar pembentukan animasi dengan karakter tiga dimensi (3D).

”Pada taraf di sinilah dibutuhkan peran art designer untuk menentukan gambar animasi tokoh setelah dalam wujud rigging tadi,” kata Hariadi.

Seperti film animasi Catatan Si Dian, sang art designer menggambar tokoh animasi Dian sebagai gadis kecil berambut kemerah-merahan dengan baju berwarna hijau. Setiap gerak model yang dilengkapi lampu led di dalam bola pingpong di setiap sendi itu menjadi gerak tokoh animasi ”Dian”.

Dibandingkan dengan teknologi animasi lainnya, pengerjaan animasi menggunakan Motion Capture dan Render Farm jauh lebih cepat. Dalam beberapa kasus, hasil dapat diperoleh dalam waktu seketika (real time).

Sudah tentu, dengan kecepatan pengerjaan tersebut berarti menghemat waktu dan dana. Selain itu, diperoleh gerakan tokoh animasi yang alamiah karena memang berdasarkan gerak model manusia.

”Sebetulnya, dalam beberapa film animasi hewan pun, geraknya diperoleh dari model manusia. Karena seperti harimau, gerak animasinya akan sulit diperoleh dari harimau betulan,” kata Hariadi.

Mengenai teknologi yang disebut sebagai Avatar Sosial, menurut Hariadi, manfaat utamanya dapat diperoleh industri film. Avatar Sosial pada intinya sebagai upaya menampilkan tokoh-tokoh figuran hingga dalam jumlah massal, tetapi dengan model yang minimal.

”Dengan teknologi ini, seorang aktor dapat memerankan banyak peran dalam sebuah film animasi,” kata Hariadi.

Advertisements
Posted in Penelitian, Publications, Research

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: